Kamis, 29 Desember 2011

iman



Iman

seorang muslim percaya pada allah dan dia menyatakan keyakinannya dalam kata-kata, tanaman itu di hati dan actualizea dalam akta. iman ini diungkapkan secara detail oleh dua macam ekspresi: umum dan khusus.

sebagai keyakinan umum, muslim yang percaya kepada Allah dengan semua
nama dan atribut, dan ia menerima semua perintah-Nya. ada sembilan puluh sembilan atribut dan nama Allah dan muslim yang percaya dalam segala atribut-nya. Allah itu Mahakuasa, semua mengetahui dan pencipta alam semesta. muslim yang menganggap dirinya sebagai satu-satunya penguasa dan master. muslim memiliki bergantung pada rahmat allah sendirian.

iman tertentu atau iman secara rinci adalah bahwa muslim yang percaya pada allah, malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, semua nabi-Nya, hari penghakiman dan kehidupan setelah kematian, dan kenyataan bahwa baik dan evilall datang dari dia. seorang muslim sejati percaya dalam semua artikel ini iman, dan mengikuti nabi terakhir dalam perbuatannya. ajaran nabi terakhir diketahui secara rinci penuh, baik itu ditulis dalam Qur'an itu, buku terakhir, atau dalam sunnah. iman memberikan ketenangan makhluk manusia dan keamanan.

AMSALUL QUR’AN

A.Definisi Amtsal Al-Qur’an
 Dari segi bahasa,Amtsal merupakan bentuk jama’ dari matsal, mitsl, danmats il yang berarti sama dengan syabah, syibh, dansyabih, yang sering diartikan dengan perumpamaan. Sedangkan dari segi istilah, amtsal adalah menonjolkan makna dalam bentuk perkataan yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh mendalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih ataupun perkataan bebas (lepas, bukan tasybih.

B.Macam-macam Amtsal dalam Al-Qur’an
1. Al-Amtsal Al-Musharrahah
Yaitu matsal yang di dalamnya dijelaskan dengan lafadz matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Contohnya Q. S. Al-Baqarah: 261 sebagaiamana telah dijelaskan di atas.
2. Al-Amtsal Al-Kaminah
Yaitu matsal yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadz tamsil tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik dalam kepadatan redaksinya dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya
Misalnya adalah firman Allah Q. S. Al-Furqan: 67







   

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
Contoh lainnya adalah Q. S. Al-Isra’: 29

3. Amstal mursalah
                       Yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafaz tasybih secara jelas. Tetapi kalmat-kalimat itu berlaku sebagai masal.
Berikut ini contohnya:
a.       Sekarang ini jelaslah kebenaran itu (yusuf:51)
b.      .tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain dari Allah (annajm:58)
c.       Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku).(yusuf:41)

                    Sebagian ahli ilmu memandang hal demikian sebagai telah keluar dari adab alqur’an. sebab Allah menurunkan alqur’an bikan untuk dijadikan masal, tetapi untuk direnungkan dan kemudian diamalkan isi kandungannya.”
                Golongan lain berpendapat, tak ada halangan bila seseorang mempergunakan alqur’an sebagai masal dalam keadaan sungguh-sungguh. Misalnya ia sangat merasa sedih dan berduka karena tertimpa bencana, sedangkan sebab-sebab tersingkapnya bencana itu telah terputus dari manusia lalu ia mengatakan, tidak ada yang menyingkapnya selain dari Allah. “ (an-najm 53:58 ).atau  Ia diajak bicara oleh penganut ajaran sesat yang berusaha membujuk agar mengikuti ajarannya itu, maka ia menjawab. : “untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.: “(alkafirun 6)”. Tetapi berdosa besarlah seseorang yang dengan sengaja berpura-pura pandai lalu ia menggunakan quran sebagai masal, sampai-sampai ia terlihat sedang bersendagurau.
C.Faedah-faedah amstal       
1.      Menonjolkan sesuatu ma’qul ( yang hanya bisa dijangkau akal, abstrak ) dalam bentuk konkrit yang dapat dirasakan indra manusia, sehingga akal mudah menerimanya : sebab pengertian-pengertian abstrak tidak akan tertanam dalam benak kecuali jika ia dituangkan dalam bentuk indrawi yang dekat dengan pemahaman. Misalnya Allah membuat masal bagi keadaan orangyang menafkahkan harta dengan riya dimana ia tidak akan mendapatkan pahala sedikitpun dari perbuatan nya itu.
“ maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih ( tidak bertanah ). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan.” (albaqoroh:264 )
2.      Menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang tidak tampak seakan-akan sesuatu yang tampak misalnya:
“mereka yang memakan ( mengambil ) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran ( tekanan ) penyakit gila.” (albaqoroh: 275 ).
3.      Mengumpulkan makna yang menarik lagi indah dalam ungkapan yang padat, seperti amstal kaminah dan amstal mursalah dalam ayat-ayat diatas.
4.      Mendorong orang yang berdiri masal untuk berbuat sesuai dengan isi masal, jika ia merupakan sesuatu yang disenangi jiwa. Misalnya Allah membuat masal bagi keadaan orang yang menafkahkan harta dijalan Allah, dimana hal itu akan memberikan kepadanya kebaikan yang banyak .
5.      Menjauhkan ( tanfir ), jika isi masal berupa sesuatu yang dibenci jiwa. Misalnya firman Allah tentang larangan berguncing . “dan janganlah sebagian kamu mengguncing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jiik kepadanya. ( alhujarot: 12 )
6.      Untuk memuji orang yang diberi masal sperti firmannya tentang para sahabat: “demikianlah perumpamaan mereka dalam taurot dan perumpamaan mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus diatas pokonya. Karena Allah hendak menjengkelkan hati  orang-orang kafir. ( alfath: 29 )
7.      Untuk menggambarkan ( dengan masal itu ) sesuatu yang mempumyai sifat yang dipandang buruk oleh orang banyak. Misalnya masal tentang keadaan orang yang dikaruniai kitabullah tetapi ia tersesat jalan hingga tidak mengamalkannya. Dalam surat al-a’raf: 175-176.
8.      Amstal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan, dan lebih dapat memuaskan hati. Allah banyak menyebut  amsal didalam alquran untuk peringatan dan pelajaran.

Perspektif historis peringatan 1 Muharram
Oleh:
Mimi MUthiatillah
UMAT Islam kembali bertemu dengan pergantian tahun baru hijriah 1 Muharram 1432 H, bertepatan dengan tanggal 7 Desember 2010. Perubahan tahun kalender Islam —yang juga disatukan dengan pergantian tahun baru Jawa oleh penguasa Mataram saat itu— berdekatan waktunya perayaan hari Natal dan tahun baru Masehi dan Imlek patut dijadikan renungan bersama.
Dalam tradisi Islam maupun Jawa, bulan Muharram atau Sura ini memiliki makna yang unik. Orang Jawa memandang Sura merupakan bulan istimewa yang penuh mitos. Di bulan inilah hubungan antara manusia dengan makhluk halus (bangsa lelembut) ditata dan diharmonisasi kembali melalui ritual adus kungkum (berendam di air), pencucian benda-benda keramat dan sejenisnya. Laku untuk meraih kasekten (kesaktian) dan kamukten (kemuliaan) yang mengandalkan kontrak kerja dengan bangsa alus akan lebih mujarab bila dilaksanakan pada bulan ini.
Umat Islam juga memiliki cerita yang khas mengenai muharram ini. Selain karena Muharram telah dijadikan sebagai titik tolak pergantian tahun baru hijriah, Muharram juga menjadi bulan favorit para nabi zaman dulu diselamatkan dari berbagai petaka. Hingga hari ini, ritual menyambut tahun baru Islam dirayakan melalui pembacaan doa akhir dan awal tahun, termasuk disunnahkan bagi umat Islam untuk puasa Asyura (hari ke-10), di samping Tasu’a (hari ke-9) dan hari ke-11.
Dasar puasa sunnah ini adalah salah satu hadits Rasulullah yang termaktub dalam Sahih Bukhari: ’’Dari Ibnu ’Abbas, ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, ia melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Nabi bertanya: ’Apakah ini?’ Orang-orang Yahudi menjawab: ’Ini hari yang baik. Pada hari inilah Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa AS berpuasa pada hari itu. Kata Nabi kemudian: ’Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian. Maka Nabi pun melakukan puasa dan kaum mukmin untuk melakukannya juga.”
Ada juga hadits yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim bahwa orang yang berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram), ditambah hari Tasu’a (9 Muharram) dan tanggal 11 Muharram akan diampuni dosa-dosanya selama setahun yang lalu. Dua hadits ini setidaknya menambah keyakinan betapa Asyura merupakan bulan penting karena telah terjadi peristiwa bersejarah yang patut diperingati.
Konon banyak sekali nabi Allah yang disembuhkan atau diselamatkan pada tanggal 10 Muharram. Nabi Ayyub disembuhkan dari penyakit kustanya, Nabi Musa diselamatkan dari kejaran Raja Fir’aun, Nabi Nuh dibebaskan dari kepungan banjir besar, Nabi Ibrahim diselamatkan dari kobaran api Raja Namrud dan lain sebagainya. Nabi-nabi pilihan ini diangkat derajatnya dan mengalami titik balik (turning point) kehidupan pada hari Asyura itu. Hadits dan bukti historis di atas dijadikan pijakan oleh kaum muslim untuk melakukan puasa sunnat Asyura sebagai wujud rasa syukur karena Allah telah menyelamatkan manusia pilihan dari tindak kebathilan kaumnya.
Hari duka atau suka cita
Ali Syari’ati pernah mengatakan bahwa sejarah tentang kebaikan adalah sejarah tentang sederetan kekalahan (1993:162). Begitu pula pengungkapan kebenaran seringkali diwarnai dengan maraknya kebatilan. Bukanlah suatu kebetulan bila sejarah Islam tidak hanya mencatat peristiwa yang manis-manis saja. Manisnya sejarah Muharram karena ia dijadikan sebagai sistem kalender Islam. Muharram dijadikan sebagai bulan pertama tahun Islam lebih karena alasan politis-sosiologis. Sebab penamaan hijrah itu dimaksudkan sebagai penghargaan terhadap momentum hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Sedangkan peristiwa hijrah sendiri tidak terjadi di bulan Muharram tapi di bulan Maulud (Rabi’ul Awwal).

Kemenangan para nabi di bulan ini tidak terjadi di dalam sejarah Islam. Muharram dalam sejarah Islam malah diwarnai peristiwa kelam dan berlumuran darah, tepatnya di tanggal 10 Muharram. Dikisahkan ketika berhasil memperdayai Ali Ibn Abi Thalib dan merebut kekuasaan al-khilafah al-rasyidah dari sahabat Rasulullah yang saleh ini, Mu’awiyah ibn Abi Sufyan melancarkan propaganda dan agitasi politik ke seluruh pelosok untuk mereduksi dan menghilangkan pengaruh Ali ibn Abi Thalib.
Ali menantu Rasulullah dari anaknya Fatimah, mukmin pertama dari kalangan anak-anak yang beriman atas kerasulan Nabi Muhammad, yang menggantikan tempat tidurnya saat rumah Nabi dikepung kaum Jahiliyyah, yang meruntuhkan benteng Khaibar, yang memenangkan perang Badr, yang tegak berdiri di Hud ketika sahabat yang lain melarikan diri dari medan perang, kini dicaci-maki di berbagai tempat, termasuk di mimbar-mimbar masjid. Pengikut dan anak cucu Ali dianiaya dan disia-siakan.
Al-Hasan putra Ali, bersedia damai dengan Mu’awiyah asal ia menghentikan kecaman terhadap ayahnya. Meski akhirnya, al-Hasan harus menelan pil pahit karena Mu’awiyah berkhianat dan tidak menepati janjinya. Sementara al- Husain, saudara al-Hasan bersikap lebih keras kepada orang-orang yang menganiaya ahl al-bait (keluarga Ali keturunan Rasulullah). Di makam Rasulullah, ia bertekad menegakkan kembali Islam Muhammadi —Islam yang diajarkan Muhammad SAW yang menentang kezaliman dan melawan penindasan. Al-Husain bertekad menjadikan Islam sebagai agama yang pro kaum mustadh’afin.
Kebenaran yang diyakini anak Ali ibn Abi Thalib ini harus dibayar mahal. Empat ribu pasukan Yazid ibn Muawiyah berhasil menghabisi al-Husain dan pengikutnya di padang Karbala. Al-Husain wafat dan kepalanya dipenggal, diarak sepanjang jalan dan diserahkan kepada penguasa saat itu, tepat 10 Muharram 61 H. Jadi bagi keluarga Rasulullah, 10 Muharram adalah hari dukacita, berkabung, bukan hari bersyukur. Inilah hari lahirnya Shi’isme (loyalis Ali ibn Abi Thalib) yang selalu diperingati dengan darah dan air mata oleh pengikutnya.
Dengan propaganda politiknya, Mu’awiyah berhasil membalik persepsi publik dengan menjadikan 10 Muharram sebagai hari kemenangan yang patut dirayakan. Muslim Indonesia yang mayoritas bermazhab Sunni, tampaknya ikut-ikutan terlena oleh agenda politik Mu’awiyah ini. Tanpa menyadari motif politik di balik perayaan bulan Muharram, maka amalan-amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan di bulan ini akan kehilangan makna atau malah salah sasaran.
Perjuangan mempertahankan dan menegakkan kebenaran seharusnya lebih militan dan sistematis. Jangan sampai loyo dan akhirnya dikalahkan oleh kebathilan. Bahwa kita wajib mewujudkan pemerintahan yang baik adalah kebenaran yang harus dilaksanakan. Kalau kita sepakat bahwa korupsi adalah common enemy yang harus diperangi bersama, mestinya harus disuarakan keras-keras oleh semua pihak dan dengan komitmen tinggi untuk tidak melakukannya.
Jihad menegakkan kebenaran dan memberantas kebathilan adalah spirit utama peringatan Muharram. Spirit ini jauh lebih utama ketimbang berpuasa, sekalipun lebih afdhal bila dilakukan bersamaan, berpuasa sekaligus jihad. Pertarungan antara kebenaran dan kebathilan berlangsung terus tanpa henti, sampai datang saat di mana yang haq akan dimenangkan dan yang bathil dimusnahkan. Kemenangan melawan kebatilan tidak pernah terwujud tanpa usaha serius dari manusia.
Sejarah Islam seperti hijrah Nabi Muhammad harus segera diluruskan. Terjadi salah kaprah dan anggapan salah mengenai sejarah hijrah ini. Kalau Anda mengira peringatan 1 Muharam sebagai awal Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, maka keyakinan itu salah besar.
“Nabi Muhammad yang ditemani sahabat Abu Bakar hijrah ke Madinah pada 12 Rabiul Awal bukan pada 1 Muharam sebagai tanda dimulainya tahun hijriah,” kata Ketua Yayasan Muthahhari, K.H. Dr. Jalaluddin Rahmat dalam diskusi buku “Psikologi Agama” di Masjid Darul Ihsan PT Telkom Jalan Japati, beberapa waktu lalu.
apabila umat Islam meluangkan waktu dua menit saja untuk membaca buku, maka Nabi Muhammad melakukan hijrah pada 12 Rabiul Awal bukan pada 1 Muharam. “Jadi, keliru besar peringatan 1 Muharam sebagai awal hijrahnya Nabi Muhammad,” tegas pakar Islam ini.
 peringatan tahun baru Islam tiap 1 Muharam juga baru dimulai sejak 25 tahun lalu atau sekira tahun 1970-an yang berasal dari ide pertemuan cendekiawan Islam di AS. “Waktu itu terjadi fenomena maraknya dakwah, masjid-masjid dipenuhi jemaah, dan munculnya jilbab hingga kemudian dikatakan sebagai kebangkitan Islam, Islamic Revival. Hal ini diperkuat dengan liputan majalah Times yang dalam sampul depannya memuat tulisan Islamic Revival,” katanya.
Untuk lebih menggelorakan kebangkitan Islam,akhirnya disepakati perlunya peringatan tahun baru Islam hingga menyebar ke seluruh Muslimin termasuk di . “Tidak ada landasan hukum baik Alquran maupun hadis soal peringatan tahun baru Islam. Saya menganggap bid’ah, tapi tak berani menyebut bid’ah dhalalah,” katanya.
Sedangkan peringatan Sura seperti di Keraton Surakarta maupun Keraton Yogyakarta merujuk kepada kata Asysyura atau 10 Muharam yang memiliki landasan hadisnya. “Anehnya di Indonesia peringatan 10 Muharam tidak banyak dilakukan malah ada sebagian umat Islam yang ingin mengecilkan malah meniadakannya. Di lain pihak, ada sebagian kecil umat Islam yang berusaha mengadakan peringatan Asysyura meski gaungnya belum besar,” timpalnya.
Bagi Ketua Umum Ikatan Jamaah Ahlul Bait (Ijabi) itu, peringatan 1 Muharam yang diidentikkan dengan kebangkitan Islam malah jauh dari tujuan yang diharapkan. “Saya terjebak kemacetan panjang di jalur selatan yang ternyata setelah diselidiki penyebabnya pawai 1 Muharam. Tampak anak-anak kecil diangkut truk bak terbuka hingga saya heran apakah ini yang disebut kebangkitan Islam?” ujarnya. istilah kebangkitan Islam yang selama 25 tahun ini belum juga terwujud malah umat Islam di dunia termasuk makin terpuruk. “Boro-boro bangkit malah makin terpuruk dan tersingkirkan. Umat Islam malah dituding sebagai teroris hingga citranya negatif. Apakah ini yang disebut kebangkitan Islam?” tanyanya lagi.
Kang jalal meyakini ajaran Islam merupakan rahmat bagi alam semesta, namun tak sedikit pula yang berbuat kezaliman dengan mengatasnamakan “bendera” agama. “Kadang saya dibuat heran. Di satu sisi Islam mengajarkan kasih sayang, namun tak sedikit pula Muslimin yang memfitnah, mengadudomba, bahkan membunuh saudaranya dengan mengatasnamakan agama,” katanya.
Ajaran Islam juga mendorong seorang Muslim untuk berbuat baik, membangun pesantren, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lain-lain yang didasarkan atas perintah agama. “Namun, tak sedikit pula yang membawa label agama lantas menyakiti, menyebarkan kebencian, dan lain-lain. Agama adalah kenyataan terdekat kita sekaligus terjauh,”

TKW


Bismillahirrohmanirrohim

Indonesia membudayakan penjualan budak
Oleh
Mimi muthi’atillah
Maha suci Allah yang maha agung,  Allah menganugrahi kita berbagai macam kenikmatan terutama bangsa Indonesia yang Allah berikan sumber daya alam yang tak terhingga banyaknya. Sungguh sangat disayangkan Indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya ini tidak diseimbangkan dengan sumber daya manusianya, tingkat sumbar daya manusia yang rendah di Indonesia membuat pengolahan sumber daya alam yang tidak optimal.Masyarakat Indonesia yang terlarut dalam kenikmatan alam yang Allah berikan cenderung bermalas-malasan, pembodohan pada zaman penjajahan jepangpun menjadi penyebab Masyarakat Bangsa Indonesia sulit berkembang dan SDM yang bertaraf rendah.
Harta, tahta, dan wanita kerap kali membutakan seseorang dan dikatakan racun dunia. Pemerintah bangsa Indonesia yang sudah terlena dengan kenikmatan alam indah Indonesia dan disuguhkan kekuasaan cenderung menikmati bukan merasakan beban amanah yang dipikul. Mereka menggunakan kesempatan tersebut untuk lebih bersenang-senang, sehingga sedikit bahkan tidak ada yang dilakukan untuk rakyat, sedangkan rakyat yang memang SDMnya rendah tidak bisa berbuat apa-apa. jika SDM tinggipun jarang yang bermoral karena zaman sekarang segalanya dapat dibeli dengan uang.
Kembali kepada zaman jahiliyah usia dunia yang semakin tua ini kembali seperti dulu lagi seperti manusia yang sudah lanjut usia tingkah lakunya kembali seperti balita begitupun kehidupan dunia yang semakin tua ini kehidupan manusianya sama seperti dlu ketika zaman jahiliyah. Dimana ketika itu  asih ada perbudakan. Disini kami akan membahas salah satunya adalah perbudakan.
Menurut sejarah, Islam diturunkan di tanah Arab salah satunya untuk menghapuskan perbudakan. Manusia yang cerdas dan cerdik bahkan sangat cerdik sehingga hukumpun bisa dipermainkan, Indonesia setiap tahunnya tidak sedikit mengirimkan tenaga kerjanya ke luar negri salah satunya Arab saudi untuk dipekerjakan paling banyak untuk menjadi pembantu rumah tangga. Rendahnya SDM membuat bangsa Indonesia lebih memilih bekerja ke luar negri padahal di negrinya sendiri banyak yang bisa dilakukan dan dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pengetahuan dan pembekalan yang kurang dari pemerintah Indonesia kepada tenaga kerjanya membuat tidak sedikit ara tenaga kerja (TKW) Indonesia yang merasa kecewa bekerja keluar negri.
Orang Arab sangat memuliakan para istrinya dan memeliharanya dengan baik sehingga sangat jarang ditemui di negara tersebut seorang wanita yang pergi ke luar rumah sekedar untuk ke pasar, sekalipun ada pasti bersama suaminya. Bahkan mereka menyewa pembantu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Sedangkan kita lihat di Indonesia yang paling banyak di pasar adalah wanita, bahkan para suami membiarkan istrinya bekerja hingga ke luar negri sebagai buruh kasar sebagai pembantu rumah tangga.
Pemerintah tidak sedikit mengirimkan para TKW setiap tahunnya karena devisa yang dihasilkan cukup besar namun kepedulian akan jaminan hidup TKW selama bekerja di luar negri sangatlah kecil, yang diutamakan adalah keuntungan yang diperoleh, kurangnya tingkat kesadaran pemerintah tidak sedikit mencelakakan para TKW.
Wanita adalah yang paling banyak dikirim sebagai TKW, pekerjaan yang tidak ringan. Dan jaminan kesuksesan yang sangat kecil, banyak sekali sudah kita temui TKW yang tidak mendapatkan perlakuan semestinya sebagai manusia, disiksa, diperkosa, penganiayaan kerap kali terjadi bahkan ada yang sampai dibunuh, sedangkan yang kita ketahui pemerintah tidak banyak bertindak, disini dapat kita lihat kepedulian pemerintah yang kurang  yang hanya menikmati devisa yang dihasilkan, hal ini tak jauh beda dengan penjualan budak, bisa dikatakan yang dilakukan pemerintah Indonesia bukanlah sekedar mempekerjakan warganya ke luar negri tapi menjualnya layaknya budak karena pemerintah dapat menikmati keuntungan yang dihasilkan namun keselamatan para TKW tidak difikirkan.
Hukum kini sudah tidak berlaku semuanya hanya kesenangan yang berkedok hukum. Pemerintah mengirimkan TKW tak lain adalah menjual. Orang arabpun yang mungkin kita memandangnya lebih mengerti tentang syari’at islam malah melakukan perbuatan tak bermoral dengan memperlakukan para TKW tidak sebagimana mestinya tapi seperti budak, sehingga ia dapat melakukan apa yang diinginkannya bahkan untuk memenuhin hasratnya. Dapat disimpulkan pengiriman TKw ke luar negri tanpa jaminan keselamatan dan kepedulian pemerintah yang hanya menikmati hasil tak ada bedanya dengan penjualan budak.
SDM yang rendah membuat bangsa Indonesia tidak sulit untuk dibodohi, sedangkan yang pinter minterin orang.

Wallahua’lam

Jumat, 20 Mei 2011

sayup-sayup terdengar suara alunan sholawat dari mushola al-barkah, aku tersentak bangun dari lelapnya tidur
Allah karim,,, hari sudah mulai pagi
aku harus bersegera bersiap diri memulai aktifitas, ku basuh wajahku dengan air wudhu
bbbrrrrrrr dinginnya menusuk tulang2ku
beberapa jiwa lain pun telah terbangun melaksanakan sholat malam meski tersisa waktu sedikit.
setan masih bergelayut di mataku, astaghfirullah berat sekali mata ini  rasanya ingin dipejam lagi tapi aku harus berangkat ke masjid untuk sholat subuh berjamaah dan sebelum itu aku harus membangunkan teman2 dan adik2ku yang masih tertidur lelap
kubasahi kepalaku dengan air subuh yang dingin
byuuuuuuurrrrrrr
sedikit menggigil tapi sudah biasa dan harus dibiasakan agar mata bisa benar2 tak akan terpejam lagi

Jumat, 08 April 2011